Al Imam Al Hasan Al Bashri berkata: “Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam kebaikan maka berlombalah dengan mereka, dan apabila engkau melihat mereka dalam kebinasaan tinggalkanlah mereka berserta apa yang telah mereka pilih bagi diri mereka sendiri. sungguh, telah kita saksikan kaum demi kaum yang lebih mengutamakan dunia daripada kehidupan akhiratnya, akhirnya mereka menjadi hina, binasa, dan tercela.” (Mawaizh Al Imam Al Hasan Al Bashri hal 46-48).

Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan,
“Wahai anak Adam, jagalah agamamu, perhatikanlah agamamu. Karena agamamu adalah darah dagingmu. Apabila agamamu selamat, akan selamat pula darah dan dagingmu. Kalau tidak demikian, -kita berlindung kepada Allah- maka baginya adalah neraka yang tak pernah padam, luka membusuk yang tak pernah sembuh, adzab yang tak akan habis selama-lamanya, dan jiwa sekarat dalam siksa yang tidak akan mati.”

(Hilyatul Auliya’, karya Abu Nu’aim Rahimahullah)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh amal shalih itu memiliki cahaya di dalam qalbu, kecerahan pada wajah, kekuatan dalam badan, tambahan rezeki, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, maksiat itu berakibat kegelapan qalbu, suramnya wajah, lemahnya badan, kurangnya rezeki, serta kebencian di hati manusia.” (Al Istiqamah, karya Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

Hakikat Keindahan

Posted: 26 April 2012 in Uncategorized

Suatu hari, seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, pakaian apakah yang paling Anda sukai?”
Beliau Rahimahullah menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan yang paling rendah di mata manusia.”
Si penanya berkata, “Bukankah ada riwayat bahwasanya ‘Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan’?”
Beliau Rahimahullah menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku telah menganut tidak hanya satu mazhab. Seandainya keindahan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pakaian, niscaya orang-orang fajir (jahat) lebih memiliki kedudukan di sisi-Nya daripada orang-orang yang baik. Hanya saja, keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan amalan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti yang baik. Seperti itu pula hadits shahih yang diriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”

(Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri hlm. 83)

[Sumber: majalah Asy Syariah No.67/VI/1432 H/2010 Hal. 1]

Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.

* Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
* Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi. * Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.
* Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.

Al-Khatib Rahimahullah berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”
Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”

(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani Rahimahullah, hal. 72-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)

[Sumber: majalah Asy Syariah No.54/V/1430 H/2009 hal. 1]

“Hati-hatilah dirimu dari cemburu yang tidak pada tempatnya karena itu adalah kunci perceraian. Hati-hati dari banyak mencela karena hal itu akan mewariskan kebencian. Selalulah Ananda memakai celak karena celak adalah perhiasan yang paling bagus. Dan wewangian terbaik adalah air.”
(Nasihat Abdullah ibnu Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma kepada putrinya disaat pernikahannya)

Asy-Syaikh Muhammad Syakir Rahimahullah mengatakan,
“Wahai anakku, apabila ada seorang temanmu yang merasa sulit memahami sebuah masalah lantas meminta penjelasan kepada ustadz, dengarkanlah jawaban ustadzmu. Bisa jadi, dengan pengulangan penjelasan itu engkau mendapatkan sebuah pelajaran yang sebelumnya tidak engkau ketahui.
Hati-hatilah, jangan sampai engkau mengucapkan perkataan yang menunjukkan penghinaan kepadanya, atau engkau menampakkan raut muka yang meremehkan daya pikirnya.
Wahai anakku, pernah ditanyakan kepada al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah, ‘Dengan apa Anda bisa mencapai derajat ilmu seperti ini?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bakhil untuk memberi faedah ilmu, tidak pula enggan meminta orang lain memberi faedah ilmu kepadaku’.” (Washaya al-Aba’ lil Abna’ hlm. 28-29)

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.”
[lihat Al-’Imu Ibnu Qayyim, no. 94].

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, ‘Telah berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku, namun ketika gelapnya malam menyelimutinya dia justru terlelap dari (beribadah) kepada-Ku. Bukankah setiap pecinta menyukai menyepi berdua dengan kekasihnya?
Inilah Aku, mendatangi para pecinta-Ku dengan serta merta mengawasinya. Sesungguhnya mereka pun telah berdiri di hadapan-Ku dengan menggambarkan-Ku berada di depan mata mereka.
Mereka berbicara kepada-Ku dalam keadaan (membayangkan) tengah menyaksikan-Ku dengan mata kepala mereka, mereka berbincang-bincang dengan-Ku dalam keadaan hadir menghadap. Esok Aku akan menyejukkan mata-mata mereka itu di dalam surga-surga-Ku’.” (Al-Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/374)

“… Jadilah dirimu seorang yang kedua kakinya berpijak di atas tanah, akan tetapi cita-citanya berada pada bintang Tsurayya.
Jikalau engkau mampu untuk melampaui seluruh ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya mereka adalah lelaki dan engkau pun juga lelaki, dan tidaklah para pemalas itu bermalas-malasan melainkan karena rendahnya keinginan dan hinanya cita-citanya.
Ketahuilah, sungguh engkau berada pada medan pertempuran, sedangkan waktu itu akan berlalu dengan cepat. Maka janganlah engkau kekal dalam kemalasan. Tidaklah sesuatu itu dapat terluput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah seseorang dapat meraih apa yang dicapainya melainkan karena kesungguhan dan tekadnya yang bulat.” (Abul Faraj Ibnul Jauzi Rahimahullah dalam Awa’iquth Thalab hal. 51-52)