“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam.
Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.” [Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala]

Keadaan-Keadaan Doa

Posted: 14 Februari 2012 in Uncategorized

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwasanya doa mempunyai 3 keadaan bersama musibah:
1. Bila doa lebih kuat daripada musibah, maka doa tersebut akan menolak datang musibah.
2. Bila doa lebih lemah daripada musibah yang datang, maka musibah itu akan menimpa hamba tersebut, tetapi doa itu akan meringankan musibah tersebut walaupun doanya lemah. 3. Bila kekuatan keduanya berimbang sehingga keduanya saling menahan. [Al-Jawab A-Kafi hal. 22-24, karya Ibnu Al-Qayyim rahimahullah]

Imam Muhammad bin Manshur Ath-Thusi (Imam Baghdad setelah Tabi’ut Tabi’in, wafat Syawal 254H) rahimahullah berkata: “Ada 6 sifat tanda orang jahil: bicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, nasihat tidak pada tempat yang tepat, menyebarkan rahasia, percaya kepada siapapun, marah dalam masalah yang sepele, & tidak mengetahui mana teman dan mana lawan.” (Shifatush Shafwah 2/398 karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah)

Dengan Siapa Kita Harus Bergaul

Posted: 2 Februari 2012 in Uncategorized

Orang-orang bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri rahimahullah: “Dengan siapa kami harus bergaul wahai Sufyan?” Beliau menjawab: “Dengan orang-orang yang mengingatkanmu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuatmu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara dengannya.” [Hilyatul Auliyaa]

Air Mata Kehidupan

Posted: 26 Januari 2012 in Uncategorized

Mata air di dalam bumi, adalah kehidupan bagi tanaman, sedangkan air mata yang jatuh di pipi (karena penyesalan atas dosa-pent) adalah kehidupan bagi hati.” (Ibnul Jauzi)

Lisan mempunyai pengaruh yang sangat kuat, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkata-kata baik, maka ia akan terbiasa untuk berkata baik. Namun jika ia bergaul dengan orang-orang yang berkata buruk, maka ia pun akan terbiasa untuk berkata buruk. Oleh karenanya, perbaikilah lisanmu dengan memperbaiki lingkungan pergaulanmu.
(Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

Keimanan Yang Sebenarnya

Posted: 21 Januari 2012 in Uncategorized

“Keimanan itu bukan sekadar pernyataan ataupun angan-angan kosong belaka. Tetapi keimanan adalah apa yang kokoh menghujam di dalam qalbu, dan dibuktikan dalam bentuk amalan-amalan shalih dengan anggota badannya.
[Al Hasan Al Bashri rahimahullahu, dinukilkan dari Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu]

Bersikap Adillah Pada Keduanya

Posted: 29 Desember 2011 in Uncategorized

Abu Darda berkata : “Bersikap adillah terhadap telinga dan lidah. Kamu diberi dua telinga dan satu lidah agar lebih banyak mendengar daripada berbicara.” (Mukhtashar Minhajil Qosidin 215).

Pokok Hikmah Adalah Diam

Posted: 26 Desember 2011 in Uncategorized

Muhammad bin ‘Ajlan rahimahullahu mengatakan, “Ucapan manusia ada empat macam: (1) berzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, (2) membaca al-Qur’an, (3) bertanya tentang sebuah ilmu lalu ia diberi tahu, dan (4) berkata tentang urusan dunia yang diperlukan. Baca entri selengkapnya »

Hanya Ada 2 Pilihan

Posted: 24 Desember 2011 in Uncategorized

Muhammad bin An Nashr Al Haritsi rahimahullahu menasehati saudaranya dalam suratnya, “Amma Ba’du, sesungguhnya engkau berada di negeri pembukaan (bukan tempat menetap). Sedangkan di depanmu hanya ada dua tempat yang engkau pasti menempati salah satunya (surga atau neraka). Sedangkan tidak ada jaminan untukmu (menjadi penduduk surga) sehingga engkau boleh merasa tenang, dan tidak ada pula jaminan keamanan untukmu (dari neraka) sehingga engkau bisa menyepelekannya. Wassalam. “
[Dinukilkan dari Iqtidha'ul Ilmi Al Amal, karya Al Khatib Al Baghdadi rahimahullahu]